Long Distance Marriage part. 1

Cerita soal Long Distance Marriage pasti banyak sudah mengalaminya. aku salah satu ‘korban’ nya. Dalam 6 tahun pernikahan aku dan suami (kita menikah tahun 2011), sudah hampir 2 tahun kami menjalani hubungan LDM (Long Distance Marriage), aku pun belum bisa dibilang expert dalam menjalaninya.

Suami sedang menempuh pendidikan S3 di Wuhan, salah satu nama kota di China, mungkin tidak terlalu familiar seperti Beijing atau Shanghai, dan ketika mendengar kalau suami dapat beasiswa di Wuhan, aku langsung googling ‘WUHAN’ dan gak terlalu banyak artikel yang memuat informasi tentang kota tersebut. Tapi mau gak mau karena suami aku termasuk seorang yang gigih dalam belajar, jadiii aku harus merelakan dia jauh pergi kesana walaupun setengah hati sedih.

Aku sempat berkunjung kesana, untuk orang yang hidupnya -gak bisa tanpa sosmed dan internet- hidup di Wuhan kaya lagi ada di pedalaman, soalnya disana susah untuk akses internet situs global seperti google, youtube dll, sosial media pun sangat dibatasi, kita gak bisa dengan leluasa buka instagram, path, line dll. sengsara ? kalau pun mau maksa musti pake VPN, itu pun lemot banget kalo pake yang free :)) cuma karena suami aku manusia yang hidup di dunia nyata (kalo istrinya dunia maya) maka buat dia sama sekali bukan masalah.

Nah disini masalahya, pernah gak sih kalian ngerasa Long distance ini menjauhkan hubungan? Gak bisa dipungkiri kita akan banyak berfikir negatif, khawatir tentang apapun yang terjadi disana dengan suami kita? apalagi kalau pulangnya 4-6 bulan sekali. Walaupun supaya hidup tenang sebenarnya kita gausah pikirin apapun yang terjadi disana dan yang penting suami kita sehat dan selalu pulang dengan selamat. but, it’s such the hardest part of long Distance Marriage..

Walaupun berkali-kali suami aku meyakinkan untuk menerima semuanya dan cukup support dia aja udah bikin tenang. Tapi, itu tuh kaya makan angin yag akhirnya kebuang jadi kentut.. bunyinya pssssssshhhhh dan udah aja ngilang cuma ninggalin sesuatu yang ga ngenakin tapi ga bisa kita ungkapin. IYA KHAN?

Apalagi kalo makin hari frekuensi Whatsapp yang asalnya tiap hari jadi dua hari sekali, dengan topik yang bolak balik

‘lagi apa?’

‘dimana?’

‘udah makan belom?’ (pertanyaan paling klise padahal sebenernya aku atau suami juga tau kalo laper pasti makan)

kadang kalo lagi butuh cerita menggebu-gebu yang pengen diceritain saat itu juga. udah ngetik panjang lebar. sent. nunggu balesan. sejam. dua jam. 24 jam kemudian… dan baru dibales.

amulets-for-money.com/ membantu menarik keberuntungan dan kekayaan.